Makna Nabi Muhammad Saw Sebagai Rahmatan lil `Alamin

Bulan Rabi’ul Awwal adalah bulan lahirnya baginda Nabi Muhammad Saw, yang sering disebut dengan bulan maulid. Sesungguhnya kelahiran beliau adalah rahmat  terbesar bagi dunia. Umat Islam wajib bergembira dengan rahmat tersebut, Allah Swt: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Q.S.Yunus [10]: 58). Wajar jika umat Islam bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad Saw dan mengenang perjuangan, serta pengorbanan beliau untuk umat manusia. Oleh sebab itu, bulan maulid penting diperingati, sebagai ekspresi cintanya kepada Nabinya, agar umat Islam semakin cinta kepadaNabi Saw, sehingga semakin kuat terdorong untuk meneladani akhlak dan mengikuti sunnah dan ajarannya. 

Al-Qur’an juga menegaskan: Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai   rahmat bagi seluruh alam. (Q.S. al-Anbiyâ’ [60]: 107).  Itu artinya bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adalah ajaran yang mengajarkan nilai-nilai rahmatan lil `âlamîn.  Lalu Apa sebenarnya rahmat itu? Dan kepada siapa saja ajaran rahmat Nabi itu dapat  dirasakan? Imam al-Râghib al-Asfihâni dalam Mu’jam al-Mufaharsy li Alfâzh al-Qur’ân menjelaskan bahwa rahmat adalah dorongan yang kuat dalam diri seseorang untuk berbuat kebaikan kepada orang lain. Itu sebabnya, Allah Swt Dzat yang memiliki sifat kasih-sayang disebut  al-Rahmân dan al-Rahîm, karena rahmat Allah Swt diberikan kepada semua makhluk-Nya, tanpa pilih kasih.  

Hemat penulis, setidaknya ada empat golongan yang merasakan rahmat diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil lamîn. Sebab yang menarik adalah Al-Qur’an menggunakan diksi `alamin, bentuk plural dari kata `âlamIni berarti ada banyak alam yang dapat merasakan cipratan rahmat tersebut. Mereka adalah: 

Pertama, golongan manusia, baik mulsim maupun non muslim. Ajaran Nabi Saw memberikan nilai-nilai rahmat kasih sayang buat semua manusia. Bentuk konkret rahmat itu adalah bahwa Nabi Saw  mengajarkan nilai-nilai kasih sayang kepada manusia, saling menghormati satu dengan yang lain, tanpa dibatasi oleh suku agama dan ras. Kaum perempuan, kaum difable dan kelompok tertindas (mustadl`afîn) harus hargai. Kemuliaan manusia diukur bukan dengan jenis kelamin atau status sosial, melainkan dengan nilai ketakwaaanya kepada Allah Swt. Al-Qur’an menyatakan:”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. al-Hujurat [49]: 13 ). 

Kedua, golongan para Malaikat. Salah sau contohnya,  ketika kita mengakhiri shalat , kita diperintahkan supaya mengucapkan salam, “Assalamu’alikum  wa Rahmatullah wa Barakatuh. Upapan itu disamping untuk menutup ritual shalat kita, juga ditujukan untuk orang-orang yang ada disamping kita, dan para malaikat hafazhah yang selalu menyertai manusia (Q.S.al-An`âm[6]: 61). Termasuk,apabila kita mau memasuki rumah, kita dianjurkan untuk tetap mengucapkan salam (Q.S al-Nur [31]: 27 ), baik ada penghuninya maupun tidak ada,  sebab di dalam rumah kita ada para malaikat rahmah yang di dalam  rumah tersebut tidak ada gambar atau anjing, sebagaimana disebut salam salah satu riwayat hadis.   

Ketiga, golongan bangsa Jin. Dalam al-Qur’an disebutkan, ada sekelompok jin yang me-ngaji dan menerima pengajaran al-Qur’an dari Nabi Muhammad Saw.  Sebagian mereka ada yang beriman, namun sebagian  yang lain tetap kafir. Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. (Q.S. Jin [72]:1-2]. Itu sebabnya, ada surat dalam al-Qur’an yang dinamakan surat Jin. Sisi lain, Nabi Saw juga mengajarkan agar manusia menghargai bangsa jin. Nabi Saw melarang  menggunakan kotoran onta untuk dipakai istinja’ (cebok). Sebab kotoran itu bagi bangsa jin adalah sebagai snack atau makanannya.Rasulullah Saw bersabda:” Janganlah kalian ber-istinjak (cebok  setelah buang air kecil dan air besar) dengan menggunakan kotoran onta dan tulang, karena keduanya merupakan bekal (makanan) saudara kalian dari bangsa jin. (H.R. al-Tirmidzi)

Keempat,  golongan bangsa hewan. Makhluk hewan juga mendapatkan  rahmat dari ajaran Nabi Muhammad, Saw.  Yang menarik adalah bahwa  al-Qur’an    menganggap bahwa makkhluk lain, seperti burung  sebagai umat  yang semisal manusia (umamun amtsâlukum): “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Q.S. al-An`âm [6]: 38).

Mereka juga harus mendapatkan perlakuan yang etis dalam kehidupan ini. Bahkan Al-Qur’an  menyebut secara umum bahwa seluruh ciptaan Allah di muka bumi ini bertasbih kepadaNya. (Q.S. al- al-Shâff [61]:1 dan Jumu`ah [62]:1). Pengakuan Tuhan atas aktivitas bertasbih mereka menunjukkan bahwa mereka punya nilai secara intrinsik dalam diri mereka. Jika makhluk yang biotik dan abiotik dirusak, berarti akan menghentikan aktifitas tasbîh mereka, dan tentunya Tuhan  tidak rela.    

Kelima, golongan tumbuhan. Tumbuhan pun merasakan ajaran rahmat Nabi Muhammad Saw. Kita tidak boleh menebang pohon secara sembarangan, terutama saat melakukan ihram haji atau umrah. Itu isyarat bahwa manusia harus pandai memelihara lingkungan alam tumbuhan. Ibrahim Ozdemir dalam Islam and Ecology: A. Bestowed Trust, (USA: Harvard University Press, 2003),  hlm. 28), menyatakan bahwa: “Human beings, though at the top of creation, are only members of the community of nature. They have responsibilty toward the whole environment just as they have responsibilities  toward their families” Kutipan tersebut menegaskan bahwa meskipun manusia berada pada posisi atas dari penciptaan, namun manusia sebenarnya hanya bagian atau anggota dari komunitas alam. Untuk itu, manusia harus ramah terhadap alam dan bertanggung jawab terhadap seluruh alam lingkungannya, sebagaimana ia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Jika manusia berbuat adil dan baika terhadap alam, maka alam pun akan ramah dan baik kepada manusia. Wa Allâhu a`lam.

Prof. Dr. Dr. Abdul Mustaqim (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Anggota Majelis Ilmi PW JQH NU DIY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *